SELAMAT DATANG DI BLOG YAYASAN GURU NGAJI INDONESIA (YGNI)

YGNI bergerak dalam Penidikan, dakwah ,Sosial dan pemberdayaan masyarakat..

LPDF-PDNF SHIDIQIIN WARA`

Kami adalah penyelenggara pendidikan diniyah formal Pertama dan Satu-satunya (2014) berdiri sejak tahun 2008.

PONPES SHIDIQIIN WARA` PURWOJATI

Pesantren berdiri lebih dari 25 tahun yang lalu, peduli pendidikan dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 23 Mei 2015

Pemerintah Pusat dan Daerah masih Telmi

Antara kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah

Sebagai praktisi pendidikan dan pengelola lembaga pendidikan baik formal dan non formal, paling tidak 10 (sepuluh) tahun terahir, penulis menganalisa berbagai kebijakan hususnya pada sektor pendidikan baik formal dan non formal.

Pasalnya hingga hari ini Pemerintah Pusat dan daerah masih berkutat pada perdebatan dikotomi tanggung jawab antara pusat dan daerah (prinsip-prinsip seperti ini mengadopsi prinsip sekuler).
Sebagai contoh pemerintah saling melempar tanggung jawab pengelolaan pendidikan agama dan keagamaan di bawah struktur Kementerian Agama (Kemenag) dengan pengelolaan lembaga pendidikan umum (Kemendikbud).

Tahun 2015, audiensi saya dan teman-teman yang tergabung dalam Forum Komunikasi Guru Ngaji Indonesia (FKGNI) Kabupaten Bogor, mengusung berbagai usulan diantaranya perhatian Pemerintah Daerah (Pemda) terhadap keberadaan Pendidikan Agama dan Keagamaan. Mereka ( Bupati/Wakil-wakilnya, Asistenya, Ketua Dewan-nya, Komisi D-nya), saling lempar tanggung jawab, lagi-lagi ini harus ada proses pembahasan melalui anggota dewan (Anggota Legislatif) Daerah. Salah satu usulun yang paling hot dan paling santer saat itu " Terbitnya Perda Diniyah ", untuk anak-anak SD/SMP.

FKGNI Bogor, hingga bersumpah, bila tidak segera mengakomodir serta mewujudkan aspirasi FKGNI, lihat saja 10 tahun ke depan, generasi Bogor Raya akan seperti apa??, Sekarang kita berada di pertengahan 2015, masyarakat luas telah mengetahui kondisi generasi/para remaja hususnya usia sekolah di Bogor sekarang ini seperti apa??

Sangat berbeda sekali dengan prinsip Islam, pada pemerintahan Islam (seorang Kholifah), dia harus menjamin kehidupan warga masyarakatnya dalam berbagai lini kehidupan, jangankan soal pendidikan warganya pasti menjamin penyelenggarakan pendidikan terbaik dan gratis. Salah satu contoh kecil perhatian Khalifah Umar, sangat konsen dan perhatian terhadap insfrastruktur jalan warga, sehigga mengutus pegawainya, agar memeriksa seluruh jalan-jalan yang ada di pelosok kampung negeri ini, khawatir ada yang berlubang, sehingga nanti ada Unta yang terperosot ke dalam lubang tersebut (sebegitunya seorang Kholifah memeprhatikan Jalan).

Sistem Islam juga menjamin Kesehatan gratis hingga berabad-abad, dengan pelayanan Rumah Sakit berstandar Internasional (baca sejarah Sistem Pemerintahan Islam). Berbanding terbalik dengan sekarang Pemerintah melempar tanggung jawab kepada pihak suasta, mengurangi tanggung jawab pemerintah yang dianggap sebagai beban negara (Sistem Pemerintahan Neo Leberalisme).

Pada sektor pendidikan, penulis sebagai praktisi pendidikan baik formal dan non formal, sebagai contoh kecil saja, perhatian Pemerintah DKI Jakarta terhadap guru-gurunya sangat-sangatlah berbanding 180 derajat, bagaimana tidak Skat antara tunjangan Pegawai Kemenag dan Kemendikbud sangatlah tidak adil. Contoh Kebijakan Ahok di Tahun 2015 :
1. Seorang Pesuruh/Penjaga Sekolah di DKI:
    1.1. Gaji paling tidak standar,................... Rp. 3.000.000,-
    1.2. Tunjangan Kinerja/Kesra Statis,........ Rp. 6.200.000,-
    1.3. Uang makan dsb sekitar..................... Rp.    800.000,-
    Jadi seorang Pesuruh/Penjaga Sekolah DKI Jakarta, gaji per bulannya kurang lebih
    Rp. 10.000,000,-
    Selain Gaji dan tunjangan di atas juga masih ada tunjangan Kesra Dinamis setiap 3 (tiga) bulan
    sekali, dibayarkan sesuai dengan pencapaian Kinerja yang bersangkutan, Katakan saja bila
    Pesuruh tersebut mencapai kinerjanya 60 % dalam 3 (tiga) bulan, maka setiap 3 bulan dia juga
    mendapatkan tunjangan kurang lebih Rp. 3.700.000,- Artinya ketika pesuruh itu gajian pada 3
   (tiga) bulan berikutnya dia menerima gaji dan tunjangan sekitar Rp. 14.000.000,-
    Berbanding kebalik dengan Tunjangan Kepala Madrasah dan Kepala TU.
2. Tunjangan Kepala Sekolah Negeri hanya sekitar Rp. 7.000.000,- an
3. Tunjangan Kepala TU bahkan 2x lipat dengan Kepala Sekolah yatu sebesar Rp. 15.000.000,-
    Bisa dibayangkan bila Ka TU gajian pada bulan ke 3 berikutnya, yang jelas tidak kurang dari
    Rp 25 jt.
    Dalam kondisi seperti itu terjadi kesenjangan Kesra antara Guru dan TU, bahkan banyak guru yang
    berceloteh, kalau kita males ngajar biarin saja diturunkan menjadi TU, malah kebeneran.

Namun guru-guru di bawah Kemenag yang mengajar di Wilayah DKI, mereka hanya menerima gaji sebagai PNS dan tunjangan sertifikasi bila yang sudah tersertifikasi, dapet tunjangan sertifiasinyapun tidak tentu, 1 (satu) tahun 2 x namun diterima diujung tahun. Dan lebih memprihatinkan lagi para guru-guru Honorer di bawah Kemenag baik dari guru RA, MI, MTs dan MA, mereka hanya mendapatkan Tunjangan Fungsional (TF) sebesar Rp. 250.000,- / bulan yang diterima 1 (satu) tahun sekali. Yang mendapatkan tunjangan TF ini pun harus memenuhi persyaratan, harus memiliki Nomor Unik Pendidik dan Kependidikan (NUPTK) dan harus mengajar sekian tahun. Artinya tidak semua guru honorer di Indonesia mendapat tunjangan TF tersebut. Padahal Guru dan tenaga Kependidikan suasta hususya pada Kemenag ada 3 (tiga) permasalahan :
1. Guru/Pegawai berstatus PNS, mereka sudah pasti memiliki NUPTK dan NRG.
2. Guru/Pegawai yang hanya memliki NUPTK.
3. Guru dan Tenaga Kependidikan yang belum memiliki NUPTK apalagi NRG.

Inilah ketidak-adilan Pemerintah dalam pengelolaan pendidikan, sudah semestinya Pemerintah harus adil dalam pengelolaan lembaga Pendidikan. Masyarakat luas harus mengetahui data pada Kementerian Agama RI pada Direktorat pendidikan Madrasah, bahwa lembaga Pendidikan agama dari RA, MI, MTs dan MA/MAK, jumlahnya mencapai 90 %, sedangkan lembaga yang didirikan Pemerintah (Sekolah Negeri) : MIN, MTsN, MAN, jumlahnya hanya 10 %.

Begitu juga lembaga pendidikan SD, SMP, SMU/SMK. Dengan jumlah lembaga pendidikan yang diselenggarakan masyarakat 90 %, jumlah gurunyapun berbanding dengan jumlah lembaganya, jadi jumlah guru yang berada pada lembaga pendidikan yang diselenggarakan masyarakat sekitar 90 %.

Artinya kekuatan pendidikan Bangsa Indonesia berada pada lembaga Pendidikan suasta?, namun kenapa hingga hari ini Pemerintah Pusat dan Daerah masih belum memahami atau mohon maaf bila penulis katakan " Pemerintah Telat Mikir ". Bagaimana tidak " telmi " ?!, lembaga pendidikan yang diselenggarakan masyarakat tidak diberi bantuan wajib setiap tahunnya untuk membenahi Sarana dan Prasarananya, seperti pada sekolah-sekolah Negeri, begitu juga perhatian terhadap guru-gurunya hususnya yang honorer.

Hingga hari ini, para pengambil kebijakan Eksekutif dan Legislatif baik Pusat dan Daerah, masih " Telat Mikir " alias " Telmi ".

Bogor, 24 Mei 2015 M
            06 Sya'ban 1436 H.

Ketua Umum Yayasan Guru Ngaji Indonesia.

Jumat, 24 April 2015

Kyai Muhammad Syechan Pendiri PP Shidiqiin Wara` dan Pembina Pemuda Pakarti

Ponpes Shidiqiin Wara` Purwojati. Kyai Muhammad Syechan Pendiri PP Shidiqiin Wara` dan Pembina Pemuda Pakarti

Mengenang Almarkhum Kyai Muhammad Syechan ketika sedang mengajarkan ilmu hakikat merupakan pengalaman yang tak dapat dilupakan. Pengajaran dengan sistem yang mudah diterima oleh santri, sehingga mudah dipahami. Kyai Muhammad Syechan sangat berperan dalam pendidikan di wilayah Purwojati.

Jasa beliau adalah berdirinya Pondok Pesantren Shidiqiin Wara` serta mau mengarahkan pemuda ke jalan masa depan.Beliau membina Pemuda Pakarti agar menjadi pemuda yang siap dalam menghadapi masa depan harus siap tahan banting, tahan menderita. Karena penderitaan saat muda adalah untuk cambuk memperoleh masa depan yang lebih baik.

Dakwah beliau diterapkan langsung kedalam kehidupan nyata sehingga santri dibekali untuk siap menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Sebagai santri Kyai Muhammad Syechan maka anggota dan pengurus Pemuda Pakarti dan underbownya seperti SIR5 Band, TBM Media Cerdik, Koperasi Pakarti Maju juga organisasi lainnya seperti FKGNI merupakan organisasi guru ngaji YGNI juga sangat menghormati pperjuangan beliau

Kamis, 23 April 2015

GURU NGAJI YGNI: Kyai Muhammad Syechan Gurungaji YGNI yang Istiqoma...

GURU NGAJI YGNI: Kyai Muhammad Syechan Gurungaji YGNI yang Istiqoma...: Guru Ngaji YGNI . Kyai Muhammad Syechan Gurungaji YGNI yang Istiqomah Dakwah Kyai Muhammad Syechan lahir didaerah basis merah artinya masy...

Jumat, 31 Oktober 2014

Pendidikan Modern

PENDIDIKAN MODERN
A. Karakteristik Umum pendidikan dalam kebudayaan

Hampir semua kegiatan belajar yang sadar dari manusia mengandung tiga proses yaitu mendengarkan, memperhatikan dan melakukan. Setiap kebudayaan-kebudayaan tertentu memberikan penekanan yang berlainan terhadap satu atau terhadap yang lain dari ketiga proses ini dan memberikan tekanan yang begitu besar pada salah satu ketiga proses ini dalam mempelajari hal-hal tertentu.sebagai contoh pendidikan dibarat masa kini,anak-anak disana lebih banyak membaca daripada memperhatikan dan mendengar meskipun kita ketahui keseimbangan bergeser sedikit karena pemakaian media dan banyaknya pendidikan yang terdiri dari” belajar melalui bekerja”.

Semua kebudayaan menggunakan upah dan hukuman untuk mendorong belajar dan membetulkan perilaku yang salah. Upah itu bermacam mulai dari memuji dan menghargai sampai pada pemberian hadiah,hukuman mulai dari tidak membenarkan dan menawarkan sampai pada pengurungan dan pemukulan.
B. Masyarakat Modern dan sederhana

Menurut Robert Redflied bahwa masyarakat sederhana adalah kecil,terasing, sangat terintegrasi,bersifat konsensus dengan solodaritas kelompok yang tinggi dan pembagian kerja yang sederhana.

Menurut Philosof zaman pencerahan mengatakan bahwa masyarakat sederhana meruapakan cermin dalam keadaan alamiah sebelum terbentuknya pemerintah tipe awal dari institusi masa kini.

Masyarakat modern adalah masyarakat yang menempatkan mesin dan teknologi pada posisi yang sangat penting dalam kehidupannya sehingga mempengaruhi ritme kehidupan dan norma-norma.






Perbandingan masyarakat modern dan sederhana
Masyarakat sederhana sangat homogen; sebagian besar anggota-anggotanya memliki pengetahuan dan perhatian yang sama dan biasa dengan pemikiran,sikap-sikap dan aktivitas dari seluruh anggota masyarakat sedangkan masyarakat modern industri kompleks,terspesialisasi dan rapat penduduknya dan banyak inforamsi yang terkumpul.
Dalam masyarakat modern unit keluarga yang tipikal adalah keluarga batin, yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak sedangkan dalam masyarakat sederhana unit keluargnya adalah keluarga luas,atau kelompok kekerabatan yang terdiri dari generasi yang diikat bersama melalui garis laki-laki
Dalam masyarakat modern meyakini akan kemajuan dan bersifat terbuka,ia berpendapat bahwa kondisi kemanusiaan,fisik dan spritual dapat diperbaiki sedangkan pada masyarkat sederhana semuanya itu tidak bisa dirobah,manusia dan lingkungannya membentuk satu kesatuan yang tidak bisa dibagi.
Masyarakat sederhana dalam memenuhi kebutuhannya relatif tetap dan dikenal semua sedangkan masyarakat modern mesti harus terus menerus menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru untuk mengerakkan roda ekonomi.


C. Pendidikan Modern dan Sederhana

Secara umum Dalam kebudayaan masyarakat sederhana agen pendidikan formalnya adalah termasuk kelurga,kerabat dan upacara inisiasi.

Beberapa faktor sehingga munculnya sekolah
Perkembangan agama yamg melembaga
Pertumbuhan dari dalam maupun luar
Pembagian kerja
Konflik dalam masyarakat

Perbedaan yang sangat besar antara pendidikan dalam masyarakat sederhana dan masyarakat modern adalah pergeseran dari kebutuhan individu untuk mempelajari sesuatu yang disetujui oleh setiap orang yang mereka setujui untuk mereka ketahui ke arah apa yang dikatakan Margaret Mead ‘ kemauan beberapa indivdu unutk mengajarkan sesuatu yang tidak sepakati bahwa siapapun mempunyai keinginan untuk tahu”.

Anak –anak dalam masyarakat modern terhadap pendidikan mempunyai sebab –sebab berlawanan,ketidak mampuannya menghubungkan informasi yang diperolehnya disekolah dengan apa yang mesti dia ketahui supaya bekerja produktif dan menikmatinya dalam kehidupannya. Sementara anak-anak masyarakat sederhana selalu dalam hubungan yang intim dengan visi orang dewasa terhadap keterampilan yang sedang dipelajarinya,sebaliknya anak-anak masyarakat modern pada umumnya terpisah secara fisik dan psikologi dari pekerjaan-pekerjaan yang akan menggunakan pengetahuanya.

Perbandingan Pendidikan Masyarakat Modern dan sederhana
Dalam masyarakat sederhana guru-guru mempraktekkan apa yang mereka ajarkan sedangkan dalam masyarakat modern guru –guru tidak bisa sekalian menjadi eksekutif karena tidak mempunyai lagi yang di ajarkan.
guru-guru dalam msayarakat sederhana sangat terikat pada murid-murudnya ,anggota kerabatnya dan juga pada apa yang diajarkannya sedangkan pada masyarakat modern tidak terlibat secara langsung dengan sukses atau gagal muridnya, kurang merasakan insentif hidup atau mati untuk mengajar secara efektif.
Dalam masyarakat Sederhana mengajarkan dan belajar menjadi lebih mudah sebab objek pengajaran selalu dapat diperoleh sedangkan masyarakat modern pada umumnya sulit didapatkan.
Masyarakat modern mengajarkan anak-anak mereka lebih banyak pengetahuan daripada masyarakat sederhana, masyarakat modern lebih banyak metode mengajar dan menggunakan waktu lebih banyak dalam pengajaran formal.




D. Hubungan Pendidikan Masyarakat Modern dan Sederhana dengan Bimbingan Konseling

Hubungan Pendidikan masyarakat modern dan sederhana dengan bimbingan Konseling terletak pada proses pendidikan itu dilaksanakan ,baik dalam pendidikan masyarakat modern dan sederhana, bimbingan konseling sebagai salah satu hal yang diajarkan dalam pendidikan masyarakat ini, bimbingan konseling menekankan adanya perubahan pada masyarakat modern dan sederhana baik itu mengenai mutu pendidikan terkhusus dari kepribadian dari masyarakat tersebut. Jika dilihat dari seorang konselor pendidikan masyarakat ini sangat penting untuk dipelajari karena seorang konselor dapat memahami dan menelaah secara seksama mengenai perbedaan antara pendidikan masyarakat modern dan sederhana dan dapat memberikan asumsi-asumsi positif dalam pendidikan terkhusus mengenai cara membantu konseli dalam menyelesaikan masalahnya dengan perbedaan teknik yang digunakan pada masyarakat modern dan sederhana.

Sabtu, 20 September 2014

Kompetensi Kepala Sekolah Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Serta Upayanya

Kompetensi Kepala Sekolah Menurut Peraturan Menteri PendidikanNasional Nomor 13 Tahun 2007 Tanggal 17 April 2007

Kepribadian
1.1. Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di sekolah/madrasah.
1.2 Memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin.
1.3 Memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala sekolah/madrasah.
1.4 Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi.
1.5 Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan sebagai kepala sekolah/ madrasah.
1.6 Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.
Manajerial
2.1 Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaan.
2.2 Mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan kebutuhan.
2.3 Memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah/ madrasah secara optimal.
2.4 Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif.
2.5. Menciptakan budaya dan iklim sekolah/ madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik.
2.6 Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal.
2.7 Mengelola sarana dan prasarana sekolah/ madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal.
2.8 Mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan sekolah/ madrasah.
2.9 Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik.
2.10 Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional.
2.11. Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien.
2.12 Mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/ madrasah.
2.13 Mengelola unit layanan khusus sekolah/ madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah.
2.14 Mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan.
2.15 Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah.
2.16 Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/ madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya.
Kewirausahaan
3.1 Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah.
3.2 Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif.
3.3 Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah.
3.4 Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah.
3.5 Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik.
Supervisi
3.1 Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
3.2 Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat.
3.3 Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
Sosial
4.1 Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah/madrasah
4.2 Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
4.3 Memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau kelompok lain.
Sumber Referensi :
http://www.puskur.net/download/uu/50Permen_13_2007_Stdr-KepSek.pdf

 2. Kepala sekolah adalah pemimpin bagi lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Sebagai leader, kemampuan yang harus dimiliki agar dapat memimpin sekolah secara effektif adalah :
– Pertama, kemampuan membangun visi, misi, dan strategi lembaga. Visi adalah pandangan ke depan lembaga pendidikan itu mau dibawa kearah mana. Misi adalah alasan mengapa lembaga tersebut ada, biasanya berdasar pada nilai-nilai tertentu yang melekat dalam organisasi. Sedangkan strategi adalah bagaimana kepala sekolah mampu mengelola sumberdaya yang dimiliki dalam upaya mencapai visi dan misi yang telah ditentukan tersebut. Visi kepala sekolah akan sangat menentukan kearah mana lembaga pendidikan itu dibawa. Kepala sekolah yang tidak mempunyai visi jauh ke depan hanya akan bertugas sesuai dengan rutinitas dan tugas sehari-harinya tanpa tahu kemajuan apa yang harus ia capai dalam kurun waktu tertentu. Kiranya, visi ini harus dibangun terlebih dahulu agar tercipta jalan dan panduan perjalanan lembaga ke depan.
-- Kedua , sebagai leader, kepala sekolah harus mampu berperan sebagai innovator, yaitu orang yang terus-menerus membangun dan mengembangkan berbagai inovasi untuk memajukan lembaga pendidikan. Salah satu yang menandai pergerakan dan kemajuan lembaga pendidikan adalah sebesar dan sebanyak apa inovasi yang dilakukan lembaga pendidikan tersebut setiap tahunnya. Jika banyak inovasi dan pembaruan yang dilakukan, maka berarti terdapat kemajuan yang cukup signifikan. Tetapi sebaiknya, jika tidak banyak inovasi yang dilakukan, maka lembaga pendidikan itu lebih banyak jalan di tempat dan tidak mengalami banyak kemajuan.
– Ketiga, kepala sekolah harus mampu membangun motivasi kerja yang baik bagi seluruh guru, karyawan, dan berbagai pihak yang terlibat di sekolah. Kemampuan dalam membangun motivasi yang baik akan membangun produktivitas organisasi dan meningkatkan efisiensi kerja. Dengan motivasi yang tinggi, didukung dengan kemampuan guru dan keryawan yang memadai, akan memacu kenerja lembaga secara keseluruhan. Karenanya, kemampuan membangun motivasi menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan performa dan produktivitas kerja.
– Keempat, kepala sekolah harus mempunyai keterampilan melakukan komunikasi, menangani konflik, dan membangun iklim kerja yang yang positif di lingkungan lembaga pendidikan. Iklim kerja yang positif akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan kerja secara keseluruhan. Jika komunikasi tidak terbangun dengan baik misalnya, akan banyak terjadi kesalah pahaman baik di antara bawahan atasan maupun di antara bawahan itu sendiri. Akibatnya, lembaga pendidikan tidak lagi bisa menjadi tempat yang nyaman untuk bekerja. Masing-masing orang tidak lagi memperhatikan antara satu dengan yang lain, masing-masing bekerja secara individual sehingga membuat suasana kerja tidak nyaman. Jika hal ini terjadi, akan sulit mengharapkan mereka untuk bekerja lebih keras atau lebih produktif. Lingkungan dan suasana kerja yang baik akan mendorong guru dan karyawan bekerja lebih senang dan meningkatkan tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan secara lebih baik.
– Kelima, kepala sekolah harus mampu melakukan proses pengambilan keputusan, dan bisa melakukan proses delegasi wewenang secara baik. Pengambilan keputusan membutuhkan ketrampilan mulai dari proses pengumpulan informasi, pencarian alternative keputusan, memilih keputusan, hingga mengelola akibat ataupun konsekuensi dari peputusan yang telah diambil.
– Keenam, kepala sekolah harus mempunyai ketrampilan pengambilan keputusan secara cepat dan tepat disesuaikan dengan dinamika dan perkembangan yang terjadi. Jika setiap permasalahan bisa segera diputuskan dan dicarikan jalan keluar, maka akan memudahkan organisasi untuk berjalan dengan dinamika yang cepat. Tatapi sebalik nya, jika kepala sekolah sering ragu dalam mengambil keputusan, maka organisasi di lembaga tersebut akan terganggu dengan banyaknya masalah yang masih menggantung dan membutuhkan jalan keluar.
– Ketujuh, kepala sekolah juga harus mempunyai keterampilan mendelegasikan tugas dan wewenangnya kepada para bawahan. Delegasi wewenang ini di satu sisi akan memudahkan tugas-tugas kepala sekolah sehingga ia bisa berkonsentrasi untuk menjalankan tugas-tugas yang strategis dan mendelegasikan tugas-tugas operasional sehari-hari kepada bawahannya. Di sisi lain, delegasi wewenang akan membuat bawahan merasa dihargai sekaligus menjadi proses pembelajaran kepemimpinan bagi mereka. Sehingga proses operasional organisasi bisa berjalan dengan lancar.
– Kedelapan , keterampilan melakukan perencanaan. Kepala sekolah harus mampu melakukan proses perencanaan, baik perencanaan jangka pendek, menengah, maupun perencanaan jangka panjang. Perencanaan jangka pendek adalah perencanaan yang dibuat untuk kepentingan jangka pendek, misalnya untuk satu bulan hingga satu tahun ajaran. Perencanaan jangka menengah adalah perencanaan untuk pekerjaan yang memerlukan waktu 2-5 tahun, sedangkan perencanaan jangka panjang meliputi perencanaan sekitar 5-10 tahun. Proses perencanaan menjadi salahsatu keterampilan yang penting mengingat perencanaan yang baik merupan setengah dari kesuksesan suatu pekerjaan. Prinsip perencanaan yang baik, akan selalu mengacu pada: pertanyaan: “Apa yang dilakukan (what), siapa yang melakukan (who), kapan dilakukan (when). Di mana dilakukan (where), dan bagaimana sesuatu dilakukan (how)”, Detail perencanaan inilah yang akan menjadi kunci kesuksesan pekerjaan.
– Kesembilan, keterampilan melakukan pengorganisasian. Lembaga pendidikan mempunyai sumberdaya yang cukup besar mulai sumberdaya manusia yang terdiri dari guru, karyawan, dan siswa, sumberdaya keuangan, hingga fisik mulai dari gedung serta sarana dan prasarana yang dimiliki. Salah satu masalah yang sering melanda lembaga pendidikan adalah keterbatasan sumberdaya. Kepala sekolah harus mampu menggunakan dan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia dengan sebaik-baiknya. Walaupun terbatas, namun sumberdaya yang dimiliki adalah modal awal dalam melakukan pekerjaan. Karena itulah, seni mengola sumberdaya menjadi ketrerampilan manajerial yang tidak bisa ditinggalkan.
– Kesepuluh, adalah kemampuan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Tahapan ini mengisyaratkan kepala sekolah membangun prosedur operasional lembaga pendidikan, memberi contoh bagaimana bekerja, membangun motivasi dan kerjasama, serta selalu melakukan koordinasi dengan ber bagai elemen pendidikan. Tidak ada gunanyua perencanaan yang baik jika dalam implementasinya tidak dilakukan secara sungguh-sungguh dan professional.
– Kesebelas, kepala sekolah harus mampu melakukan tugas-tgas pengawasan dan pengendalian. Pengawasan (supervisi) ini meliputi supervise manajemen dan juga supervisi dalam bidang pengajaran. Sepervisi manajemen artinya melakukan pengawasan dalam bidang pengembangan keterampilan dan kompetensi adminstrasi dan kelembagaan, sementara supervisi pengajaran adalah melakukan pengawasan dan kendali terhadal tugas-tugas serta kemampuan tenaga pendidik sebagai seorang guru. Karenanya kepala sekolah juga harus mempunyai kompetensi dan keterampilan professional sebagai guru, sehingga ia mampu memberikan supervisi yang baik kepada bawahannya.

Rabu, 05 Maret 2014

Perlukah Pendidikan Seks Untuk Anak ?

Perlukah Pendidikan Seks Untuk Anak ?
inilah jawaban secara pendidikan umum walau masih banyak pertentangannya, jawaban secara alqurab hadits ada tersendiri tentunya 

Seks itu artinya jenis kelamin, yang membedakan laki-laki dan perempuan secara biologis. Sementara, seksualitas menyangkut beberapa hal antara lain :
·                     Dimensi biologis – yaitu berkaitan dengan organ reproduksi, cara merawat kebersihan dan kesehatan.
·                     Dimensi psikologis – seksualitas berkaitan dengan identitas peran jenis, perasaan terhadap seksualitas dan bagaimana menjalankan fungsinya sebagai makhluk seksual.
·                     Dimensi sosial – berkaitan dengan bagaimana seksualitas muncul dalam relasi antar-manusia serta bagaimana lingkungan berpengaruh dalam pembentukan pandangan mengenai seksualitas dan pilihan perilaku seks.
·                     Dimensi kultural – menunjukkan bahwa perilaku seks itu merupakan bagian dari budaya yang ada di masyarakat.


Tujuan Pendidikan seks di sekolah menurut Federasi Keluarga Internasional yaitu :
·                     Memahami seksualitas sebagai bagian dari kehidupan yang esensi dan normal.
·                     Mengerti perkembangan fisik dan perkembangan emosional manusia.
·                     Memahami dan menerima individualitas pola perkembangan pribadi.
·                     Memahami kenyataan seksualitas manusia dan reproduksi manusia.
·                     Mengkomunikasikan secara efektif tentang pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan seksualitas dan perilaku sosial.
·                     Mengetahui konsekuensi secara pribadi dan sosial dari sikap seksual yang tidak bertanggung jawab.
·                     Mengembangkan sikap tanggung jawab dalam hubungan interpersonal dan perilaku sosial.
·                     Mengenal dan mampu mengambil langkah efektif terhadap penyimpangan perilaku seksual.
·                     Merencanakan kemandirian di masa depan, sebuah tempat dalam masyarakat, pernikahan dan kehidupan keluarga.

Dr. Boyke Dian Nugraha juga menjelaskan, pendidikan tentang seks sebenarnya perlu diberikan orang tua pada anak sejak usia dini agar anak bisa lebih memahami keunikan dirinya. Dengan demikian, anak akan lebih percaya diri, mampu menerima keunikan dirinya sekaligus tahu bagaimana menjaga dirinya sendiri. Ajarkan pada anak untuk bisa mengatakan “TIDAK” pada orang dewasa yang belum dikenal/ asing. Ini menjadi salah satu pencegahan yang efektif agar tidak terjadi pelecehan seks dan hal-hal lain yang tidak diinginkan.

Secara garis besar, dr. Boyke membagi pendidikan seks bagi anak berdasarkan usia ke dalam empat tahap yakni usia 1 – 4 tahun, usia 5-7 tahun, 8-10 tahun dan usia 10-12 tahun.
·                       Usia 1 sampai 4 tahun
Orangtua disarankan mulai memperkenalkan anatomi tubuh, termasuk alat genital. Perlu juga ditekankan pada anak bahwa setiap orang adalah ciptaan Tuhan yang unik, dan berbeda satu sama lain. ”Kenalkan, ini mata, ini kaki, ini vagina. Itu tidak apa-apa. Terangkan bahwa anak laki-laki dan perempuan diciptakan Tuhan berbeda, masing-masing dengan keunikannya sendiri.
·                       Usia 5 – 7 tahun
Menurut dr. Boyke, rasa ingin tahu anak tentang aspek seksual biasanya meningkat. Mereka akan menanyakan kenapa temannya memiliki organ-organ yang berbeda dengan dirinya sendiri. Rasa ingin tahu itu merupakan hal yang wajar. Karena itu, orang tua diharapkan bersikap sabar dan komunikatif, menjelaskan hal-hal yang ingin diketahui anak. ”Kalau anak laki-laki mengintip temannya perempuan yang sedang buang air, itu mungkin karena ia ingin tahu. Jangan hanya ditegur lalu ditinggalkan tanpa penjelasan. Terangkan, bedanya anak laki-laki dan perempuan. Orangtua harus dengan sabar memberikan penjelasan pada anak,” ujar Boyke.
·                       Usia 8 – 10 tahun
Anak sudah mampu membedakan dan mengenali hubungan sebab akibat. Pada fase ini, orangtua sudah bisa menerangkan secara sederhana proses reproduksi, misalnya tentang sel telur dan sperma yang jika bertemu akan membentuk bayi.
·                       Usia 11-13 tahun
Anak sudah mulai memasuki pubertas. Ia mulai mengalami perubahan fisik, dan mulai tertarik pada lawan jenisnya. Ia juga sedang giat mengeksplorasi diri. Anak perempuan, misalnya, akan mulai mencoba-coba alat make up ibunya. Pada tahap inilah peran orangtua amat sangat penting. Orangtua harus menerima perubahan diri anaknya sebagai bagian yang wajar dari pertumbuhan seorang anak-anak menuju tahap dewasa, dan tidak memandangnya sebagai ketidakpantasan atau hal yang perlu disangkal.
Di sisi lain orangtua harus berusaha melakukan pengawasan lebih ketat, dengan cara menjaga komunikasi dengan anak tetap berjalan lancar. Kalau anak merasa yakin dan percaya ia bisa menceritakan apa saja kepada orang tuanya, orang tua akan bisa mengawasi si anak dengan lebih baik.
Sebaiknya anak perempuan memiliki hubungan lebih dekat dengan ibu, dan sebaliknya. Hal itu mempermudah anak membentuk identitas dirinya sendiri sebagai individu dewasa.
”Kalau anak perempuan jauh lebih dekat dengan ayahnya, dan kurang akrab dengan ibunya, ia bisa saja mencari sosok ayah jika ia mencari pasangan hidup kelak, tidak suka teman seusianya.
Hasil penelitian tersebut antara lain: Sarwono (1970) meneliti 117 remaja di Jakarta dan menemukan bahwa 4,1% pernah melakukan hubungan seks. Beberapa tahun kemudian, Eko (1983) meneliti 461 remaja, dan dari penelitian ini diperoleh data bahwa 8,2% di antaranya pernah melakukan hubungan seks dan 10% di antaranya menganggap bahwa hubungan seks pranikah adalah wajar.
Di Semarang, Satoto (1992) mengadakan penelitian terhadap 1086 responden pelajar SMP-SMU dan menemukan data bahwa 4,1% remaja putra dan 5,1% remaja putri pernah melakukan hubungan seks. Pada tahun yang sama Tjitarra mensurvei 205 remaja yang hamil tanpa dikehendaki. Survei yang dilakukan Tjitarra juga memaparkan bahwa mayoritas dari mereka berpendidikan SMA ke atas, 23% di antaranya berusia 15 – 20 tahun, dan 77% berusia 20 – 25 tahun.

Metode yang bisa dipakai
1.  MENGENALKAN PERBEDAANLAWAN JENIS
Jelaskan bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan yang memiliki perbedaan jenis kelamin. Hal ini yang menyebabkan beberapa hal menjadi berbeda, seperti cara berpakaian, gaya rambut, cara buang air kecil. Terangkan bahwa anak laki-laki jika sudah besar akan jadi ayah dan anak perempuan akan men­jadi ibu. Tugas utama ayah adalah mencari nafkah, walaupun harus tetap memperhatikan keluarga. Adapun tugas utama ibu adalah mengatur rumah tangga dan kelu­arga. Namun, tidak menutup kemungkinan seorang ibu membantu ayah dalam mencukupi kebutuhan. Dengan demikian, anak bisa memahami peran jenis kelamin dengan baik dan benar.
2.  MEMPERKENALKAN ORGAN SEKS
Caranya cukup mudah, misalnya dengan menggunakan boneka ataupun ketika mandi. Perkenalkan anak secara singkat organ tubuh yang dimiliki, seperti rambut, kepala, tangan, kaki, perut, serta jangan lupa penis dan va­gina. Terangkan juga fungsi dari anggota tubuh dan cara pemeliharaannya agar terhindar dari kuman penyakit.
3.  MENGHINDARI ANAK DARI KEMUNGKINAN PELECEHAN SEKSUAL
Tegaskan pada anak bahwa alat kelamin tidak boleh dipertontonkan secara sembarangan. Tumbuhkan rasa malu pada anak, misalnya ketiika keluar dari kamar mandi hendaknya mengenakan pakaian atau handuk penutup. Selain itu, jika ada yang menyentuhnya, segera laporkan pada orang tua atau guru di sekolah. Anak boleh teriak sekeras-kerasnya dalam hal ini untuk melindungi dirinya.
4.  INFORMASIKAN TENTANG ASAL-USUL ANAK
Untuk anak usia prasekolah, bisa diterangkan bahwa anak berasal dari perut ibu, misalnya sambil menunjuk perut ibu atau pada ibu yang sedang hamil. Sejalan dengan usia, anak boleh diterang­kan bahwa seorang anak berasal dari sel telur ibu yang dibuahi oleh sperma yang berasal dari ayah. Tekankan bahwa pembuahan boleh atau bisa dilakukan setelah wanita dan pria menikah.
5.PERSIAPAN MENGHADAPI MASA PUBERTAS
Informasikan bahwa seiring bertambahnya usia, anak akan mengalami perubahan dan perkembangan. Perubahan yang jelas terlihat adalah ketika memasuki masa pubertas. Anak perempuan akan mengalami menstruasi/haid, sedangkan anak laki-laki meng­alami mimpi basah. Hal ini menandai juga perubahan pada bentuk tubuh dan kualitas, misalnya bagian dada yang membesar pada wa­nita dan suara yang memberat pada seorang pria.
Penjelasan yang diberikan tentu menggunakan istilah tepat namun tetap dapat dipahami anak.

Materi pendidikan seks yang diberikan di sekolah sesuai dengan jenjang pendidikan adalah sebagai berikut :
Sekolah Dasar (SD) –> Terutama Kelas 5-6 SD (memasuki usia remaja)
·                     Keterbukaan pada orang tua.
·                     Pengarahan akan persepsi mereka tentang seks bahwa hal tersebut mengacu pada ‘jenis kelamin’ dan bukan lagi tentang hal-hal di luar itu (hubungan laki-laki dan perempuan; proses membuat anak; dsb.).
·                     Perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
·                     Pengenalan bagian tubuh, organ, dan fungsinya.
·                     Memakai bahasa yang baik dan benar tentang seks à menggunakan bahasa ilmiah, seperti ‘Penis’, ‘Vagina’.
·                     Pengenalan sistem organ seks secara sederhana.
·                     Anatomi sistem reproduksi secara sederhana.
·                     Cara merawat kesehatan dan kebersihan organ tubuh, termasuk organ seks/organ reproduksi.
·                     Mengajarkan anak untuk menghargai dan melindungi tubuhnya sendiri.
·                     Proses kehamilan dan persalinan sederhana.
·                     Mempersiapkan anak untuk memasuki masa pubertas.
·                     Perkembangan fisik dan psikologis yang terjadi pada remaja.
·                     Ciri seksualitas primer dan sekunder.
·                     Proses terjadinya mimpi basah.
·                     Proses terjadinya ovulasi dan menstruasi secara sederhana.

·                     Memberikan pemahaman bagi para siswa mengenai pendidikan seksual agar siswa dapat memiliki sikap positif dan perilaku yang bertanggung jawab terhadap kesehatan reproduksinya secara umum.

sumber http://yayasangurungajiindonesia-ygni.blogspot.com/2014/03/perlukah-pendidikan-seks-untuk-anak.html

Selasa, 04 Maret 2014

SISTEMATIKA LAPORAN STUDY VISIT

SISTEMATIKA LAPORAN STUDY VISIT


Sistematika laporan hasil study visit sebagai berikut:

Halaman Sampul
Halaman sampul harus memuat judul, nama KKG atau MGMP, logo Depdiknas, dan unsur terkait dengan ketentuan:
a.    Tulisan diketik dengan huruf kapital
b.    Nama KKG atau MGMP ditulis lengkap
c.    Logo Depdiknas
d.    Nama UPTK untuk KKG atau Nama Kabupaten untuk MGMP
a.    Tahun

Halaman Pengesahan
Laporan hasil study visit yang telah lengkap harus ditandatangani Ketua KKG atau MGMP, kemudian disahkan oleh Kepala Sekolah Inti dan unsur terkait.
Halaman pengesahan laporan hasil study visit memuat:
             a.      Tanda tangan, nama ketua, NIP, dan stempel.
            b.      Diketahui Kepala Sekolah Inti dengan bukti tanda tangan, nama, NIP, dan stempel.
             c.      Diketahui Kepala UPTD Dinas Pendidikan Kabupaten di Kecamatan untuk KKG atau Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota untuk MGMP dengan bukti tanda tangan, nama, NIP, dan stempel.

Kata Pengantar
Daftar Isi

BAB I. PENDAHULUAN
A.    Rasional
B.    Tujuan
C.    Sasaran
D.   Materi
E.    Output

BAB II. PELAKSANAAN DAN HASIL

Bab ini berisi tentang pelaksanaan kegiatan study visit yang meliputi 5W + 1H (what, where, when, why, who, and how). What menggambarkan nama kegiatan yang dilakukan, where menggambarkan tempat pelaksanaan kegiatan, whenmengambarkan waktu pelaksanaan, who menggambarkan peserta, nara sumber/fasilitator/instruktur/ pendamping (bila ada), how menggambarkan strategi dan metode pelaksanaan kegiatan, keterlibatan peserta dalam kegiatan study visit, sumber dana, dan sistem dokumentasi kegiatan/pelaporan, hasil study visit, kendala dan upaya pemecahannya.
Bab ini terdiri dari beberapa subbab, yaitu:
A.    Pelaksanaan
1.    Waktu Pelaksanaan (visitasi ke KKG atau MGMP dan SD atau SMP)
2.    Nama KKG atau MGMP, Nama Sekolah, Mata Pelajaran (untuk MGMP), Guru yang melaksanakan, dan Tim Pemantau (sebaiknya dibuat dalam bentuk tabel).
B.    Hasil (uraian pelaksanaan dipilah antara visitasi ke KKG atau MGMP dan ke SD atau SMP)
C.    Tindak Lanjut (merupakan pembahasan lebih jauh dan pemanfaatan hasil temuan visitasi).
BAB III. PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.    Saran

LAMPIRAN-LAMPIRAN
-          Foto kegiatan
-          Dokumen yang diperoleh
-          Jadwal study visit
-          Dll.